Rabu, 08 Februari 2012

LAHIRNYA GERAKAN EKUMENE DI LINGKUNGAN GEREJA-GEREJA PROTESTAN

LAHIRNYA GERAKAN EKUMENE
DI LINGKUNGAN GEREJA-GEREJA PROTESTAN
Oleh: Vitalis Letsoin

              Pertama-tama istilah ekumene atau yang sering kita kenal dengan gerakan ekumene merupakan anak dari sebuah sejarah panjang Gereja. Kata ini merupakan padanan dari kata “Katolik” dan “universal” untuk menujuk pada suatu gerakan mencari keutuhan dan usaha mengumpulkan kembali demi menjaga integritas Gereja. Terutama merupakan panggilan kepada kesatuan Gereja Kristus. Gerakan ekumene sebagai panggilan pengintegrasian Gereja menemukan wajahnya ketika Gereja Katolik dan Gereja-gereja Protestan mulai membuka diri satu sama lain untuk membangun persaudaraan dalam kesatuan Gereja Kristus. Namun apakan sesungguhnya hakekat gerakan ekumene itu, dan bagaiman lahirnya gerakan itu dalam lintasan sejarah Gereja? Di dalam bagian ini akan diuraikan, pertama; garis besar pemahaman tentang hakikat ekumene, dan kedua; tentang bagaimana ekumene sebagai gerakan mencari kesatuan Kristen berlangsung dalam sejarah Gereja, terutama dibatasi pada sejarah lahirnya ekumene dalam lingkungan Protestan.

1.1. Pengertian Ekumene
              Banyak orang membutuhkan informasi yang jelas tentang makna istilah ekumene, sebab istilah itu sudah terlanjur digunakan secara tidak tepat oleh banyak lembaga. Dengan menggunakan istilah ekumene sekedar untuk menujukkan bahwa lembaga tersebut terdiri dari beberapa Gereja. Padahal, istilah ini sejak asali sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Gereja. Istilah ekumene berasal dari bahasa Yunani, yang secara geografis dipakai untuk mengartikan dunia yang didiami,[1] dan bukan hubungan antar Gereja yang dikenal dewasa ini. Menurut catatan Dr. Abineno [teolog Protestan & Ketua Umum Persekutuan Gereja di Indonesia sejaka tahun 1964-1980], istilah ekumen telah dipakai sejak abad ke-5 SM. Dalam kajiannya, istilah ini pernah diberi arti; kebudayaan, kerajaan, bahkan juga Gereja.[2] Dengan demikian istilah ini memiliki beberapa perkembangan arti yang mesti segera ditelusuri. Oleh karena itu, di dalam tulisan ini, perlu pemahaman tentang sejarah penggunaan istilah ekumene tersebut demi menghidari kekaburan pemaknaan gerakan ekumen.

1.1.1. Perkembangan Arti Istilah Ekumene          
              Istilah ekumene berasal dari bahasa Yunani, terdiri dari dua kata oikos, yang berarti “rumah” dan menein, yang berartitinggal atau mendiami”. Kedua kata ini jika digabungkan akan menjadi oikumene yang secara harafiah berarti “yang didiami”. Istiliah oikumene sering digabungkan dengan kata ge [disebut oikumene ge] yang berarti “dunia atau bumi”,[3] tetapi kata benda ini sering tidak disebutkan secara eksplisi. Masyarakat Yunani mula-mula menggunakan istilah oikumene [selanjutnya disebut ekumene] untuk mengartikan “bagian bumi yang didiami orang” [Lk. 4:5; Rom. 10:18; Ibr. 1:6]. Ketika itu orang-orang belum tahu menahu tentang Asia, Amerika, Afrika dan apalagi Australia. Bagian dunia paling penting yang mereka kenal ialah dunia sekitar Laut Tengah, yakni seluruh wilayah Kekaisaran Romawi. Sehingga ekumen kemudian mendapat arti seluruh Kekaisaran Romawi [Kis. 24:5] dan semua penduduknya [Kis. 17:6].[4]
              Sekitar abad ke-2 dan abad ke-3 [abad-abad awal lahirnya kekristenan], istilah ekumene mulai dihubungkan dengan Gereja. Ekumene berarti seluruh dunia yang didiami dan yang dikuasai oleh Kekaisaran Romawi, menjadi tempat Gereja menjalani misinya.[5] Dengan kata lain, wilayah dimana Gereja berkarya untuk mewartakan injil adalah ekumene. Gereja ekumene [atau Gereja di dalam wilayah Kekaisaran Romawi] memiliki arti yang sama dengan Gereja universal, sebab orang-orang Kristen Yunani dan Romawi hampir tidak menyadari bahwa di luar batas-batas Kekaisaran Romawi juga tinggal orang-orang yang dapat menjadi sasaran injil.[6] Pada saat Gereja diakui oleh Kekaisaran, terutama ketika Kerajaan Romawi menjadi “sama dengan” Kerajaan Gerejani, pemahaman tentang ekumene dan Gereja menjadi satu pengertian. Sehingga istilah ekumene mendapat arti “Gereja seluruhnya, yaitu Gereja yang dianggap dan diakui sebagai Gereja yang kudus, Gereja yang sah, yakni Gereja Katolik”. Ekumene duniawi berarti juga ekumene gerejani, dimana Gereja dan Kekaisaran bersatu padu. Muncullah Imperium Kristen dimana kaisar mengurus soal-soal politik dan bertindak sebagai pelindung Gereja, sedangkan paus beserta para uskup mengurus bidang rohani.[7]
              Selain itu, istilah ekumene bisa saja berarti konsili.[8] Di satu pihak, muncullah kelompok-kelompok dengan ajaran-ajarannya yang sesat. Mereka membentuk Gerejanya sendiri yang kemudian oleh Gereja Katolik disebut Gereja-gereja sesat. Namun di pihak lain, Kekaisaran [baik Gereja dan Negara] menghendaki keesaan dan keutuhan Gereja.[9] Sehingga demi menanggulangi kesesatan-kesesatan itu diadakan beberapa konsili yang bertujuan menjaga integritas Gereja. Konsili-konsili itu disebut konsili ekumenis oleh karena selain bertujuan menjaga keutuhan dan integritas Gereja, dianggap mewakili seluruh Gereja dan mengambil keputusan yang berlaku universal.[10] Dengan kata lain, istilah ekumene disebut sebagai konsili sebab merupakan pertemuan dari seluruh Gereja.
              Barangkali Zinzendorf [seorang pelopor Gerakan Pietisme, 1700] sebagai orang pertama yang menggunakan istila ekumene di dalam arti yang lebih modern. Ia menggabungkan istilah ekumene dengan keesaan Gereja;ekumene adalah keesaan Kristen yang melebihi perpecahan antar bangsa”.[11] Namun, khususnya karena usaha Nathan Soderblom [uskup Gereja Lutheran Swedia yang merupakan tokoh penting dalam gerakan ekumene sedunia, 1866-1931] pemahaman modern istilah ekumene mulai diterima secara umum. Menurut Nathan, Gereja-gereja belum ekumenis kalau masih ada tembok-tembok pemisah di antara Gereja-gereja Protestan, Orthodoks dan Gereja Katolik.[12] Ekumene menyangkut kehidupan Gereja seluruhnya, terutama usaha perdamaian dan saling pengertian di antara seluruh umat Kristen. Ekumene berarti “Gereja-gereja yang bergumul bersama hingga mencapai keesaan injili dan yang melalui sikapnya, kegiatannya, dan aktivitasnya mau membuktikan keesaan yang asasi di dalam dunia dan masa kini.[13]
              Akhir-akhir ini ada kecenderungan untuk mempergunakan istilah ekumene pada pengertian yang lebih universal, yang tidak terbatas hanya untuk persekutuan orang Kristen saja, melainkan seluruh umat ciptaan Tuhan.[14] Pengertian ini sudah lebih dekat dengan pandangan Alkitab; ekumene berarti “bumi dan segala isinya” atau seluruh dunia [Mzm 24:1; Kis 17:6; Why 16:14]. Tetapi di dalam lembaran lain dari Alkitab juga dikatakan bahwa “Kerajaan Allah yang penggenapannya masih kita nantikan” itupun disebut dunia ekumene yang akan datang [Ibr 2:5]. Atau seperti yang dikatakan Dr. Arie de Kuiper, bahwa Gereja harus terbuka kepada ekumene yang akan datang dimana semua ciptaan disatukan di dalam Kerajaan Allah, dan mengikuti Yesus ke arah itu.[15] Singkatnya ekumene dalam level yang paling puncak adalah keesaan ciptaan di dalam Yesus Kristus. Keesaan yang berproses secara dinamis menuju keutuhan dan kesempurnyaanya di dalam Kerajaan Allah Bapa di surga.
             

1.1.2. Gerakan Ekumene
              Secara singkat dapat dikatakan bahwa istilah ekumene sejak asali sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Gereja. Istilah ini dipakai secara politis menunjuk pada wilayah atau bagian dunia yang disebut Kekaisaran Romawi. Baru pada sekitar abad ke-19, istilah ini dipakai dalam arti Gereja dan usaha persatuan Gereja Kristus. Kadang-kadang istilah ini dipakai dalam arti yang lebih luas lagi, dari pada sekedar hubungan antar Gereja. Pengertian ini telah mengarah pada pemahaman yang lebih jelas mengenai ekumene sebagai keseluruhan dunia atau bumi yang didiami seluruh ciptaan Allah, termasuk manusia dan makhluk lainnya. Meskipun beberapa arti istilah ekumene di atas sudah dapat menunjukan hakikat dari gerakan ekumene, namun dalam bagian ini perlu penjelasan defenitif atasnya.
              Istilah ekumene secara defenitif mulai dipakai sejak abad ke-20. Dalam hubungan dengan ini, mengutip kembali pendapat uskup Nathan Soederblom [pemberi arti resmi dari kata ekumene dan diterima umum] “ekumene adalah Gereja-gereja yang bersama-sama bergumul sampai mencapai keesaan injili dan melalui sikap dan kegiatannya mau membuktikan keesaan yang asasi ini di dalam dunia dan masa kini”.[16] Dari penjelasan ini, barangkali sebuah defenisi tentang “gerakan ekumene” [atau ekumene sebagai gerakan yang dibahas dalam tulisan ini] dapat dijelaskan demikian; Gerakan ekumene adalah “usaha-usaha dan tanggung jawab dari keseluruhan hidup Gereja yang dengan terus-menerus membuktikan rasa persaudaraan di dalam kesatuan Gereja, dan kesatuan semesta sampai mencapai kesatuan yang sempunah di dalam Kristus.
              Satu catatan mengenai istilah ekumene di dalam Konsili Vatikan II. Di dalam beberapa dokumen konsili [misalnya; Dekrit Unitatis Redintegratio] dipakai istilah ekumenisme yang secara konsep diartikan sebagai usaha pemulihan kesatuan umat Kristus, Dengan kata lain, ekumenisme adalah usaha Gereja-gereja [Protestan, Orthodoks dan Katolik, bahkan juga golongan-golongan bukan Kristen dan seluruh ciptaan] untuk membangun persatuan nyata di antara mereka. Konsili Vatikan II sendiri merupakan Konsili Ekumenis, oleh karena selain dimaklumkan untuk membaharui Gereja Katolik, Konsili ini menunjukan keterbukaan nyata untuk Gereja dan golongan bukan Katolik demi persatuan baru yang universal.[17] Dengan menggunakan istilah ekumenisme dapat menimbulkan kesan bahwa gerakan ekumene dilihat sebagai suatu isme; suatu ideologi teologis disamping ideologi-ideologi lain. Akat tetapi bukan itu yang dimaksudkan. Ekumenisme menunjuk kepada gerakan ekumene, yaitu gerakan historis yang dibahas di dalam tulisan ini.[18] 

1.2.  Sejarah Perkembangan Gerakan Ekumene
              Sejak awal Gereja suda mengalami perpecahan. Bahkan sejarah mencatat bahwa “perpecahan Gereja itu umurnya bisa dikatakan setua umur Gereja itu sendiri”.[19] Artinya, sejak permulaan Gereja itu lahir telah terjadi perpecahan, sampai pada zaman kita pun “Roh Perpecahan” terus membawa perpecahan di dalam Gereja-gereja. Secara umum, dapat dikatakan perpecahan Gereja itu terjadi dalam dua babakan sejerah Gereja. Pertama skisma Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks Yunani, yang secara tradisional mulai sejak tahun 1054. Dan kedua pada abad ke-16, ketika protes Martin Luther  [seorang pastor dan teolog Kristen, 1483-1546] terhadap Gereja Katolik mengakibatkan Reformasi Protestan dan perpecahan baru kesatuan Gereja di Barat. Selanjutnya, sejarah pun mencatat perpecahan-perpecahan yang semakin hebat setelah Reformasi Protestan. Kenyataan yang tak bisa disangal bahwa terdapat berbagai macam Gereja Kristen, yang bukan hanya berbeda satu dengan yang lain, tetapi saling bertentangan. Misalnya terdapat Gereja Katolik, Gereja Orthodoks, Gereja Anglikan, Gereja Lutheran dan Calviniks, serta denominasional Gereja.[20] Pertanyaan kemudian mencul, bagaimana usaha yang harus dilakukan untuk mempersatukan Gereja-gereja yang terpecah belah ini? Meskipun Orthodoks bisa menunjukan sikap ekumenis, namun bab ini hanya membatasi pada sejarah gerakan ekumene Gereja-gereja Protestan, tentu dalam keterkaitan dengan Gereja Katolik.

1.2.1. Akar-akar Gerakan Ekumene Pada Abad-Abad Lalu Sampai Pada Konferensi Pekabaran Injil Sedunia Di Edinburg (1910)[21]          
              Walaupun Gereja berhadapa dengan kondisi keterpecahan namun selalu ada usaha untuk merajut persatuan Gereja. Memang usaha mempersatukan Gereja-gereja telah dimulai sejak abad-abad lampau. Kaisar-kaisar Romawi Timur misalnya, menjaga keutuhan Gereja dengan memakai tentara untuk membawa kembali setiap kelompok Kristen yang tidak tunduk kepada paus. Calvin [teolog Kristen Perancis terkemuka pada masa Reformasi Protestan, 1509-1564] menggunakan jalan lain dengan menekankan aspek Alkitab. Menurutnya, kesatuan dapat diperoleh jika seluruh Gereja tunduk kepada Kuasa Alkitab. Namun usaha-usaha ini kurang membawa hasil nyata. Sebab-sebab kultur-religius membuat jurang semakin dalam, yang juga telah didiamkan selama berabad-abad. [22] Barulah pada antara abad ke-17dan abad ke-19 usaha mempersatukan orang-orang Kristen mengemuka sebagai pilihan yang langkahnya harus segera diambil. Usaha ini timbul pertama-tama karena kesadaran bahwa Gereja yang didirikan oleh Kristus adalah Gereja yang Esa, oleh karena itu perpecahan Gereja pasti bertentangan dengan kehendak Kristus. Tugas Gereja adalah mempersatukan dunia di dalam Kristus, sehingga persatuan Gereja mutlak perlu demi usaha mempersatukan seluruh umat manusia di dalam Kristus.[23] 
              Kesadaran akan usaha persatuan Gereja ini hidup khususnya dalam diri para cendekiawan Gereja, baik Katolik maupun Protestan, terutama ketika persatuan Gereja ditarik kembali pada akar kehidupan Gereja Kuno. Baik Gereja Katolik maupun Protestan, sama-sama mewarisi iman yang satu, yaitu Pengakuan Iman Rasuli. Oleh karena itu, kehidupan Gereja Kuno harus menjadi patokan perbaikan keadaan Gereja. Meskipun usaha ekumene bisa ditunjukan pada tingkat ini, namun agaknya usaha perdamaian itu belum membawa hasil nyata. Usaha ini dinilai masih bersifat intelektual dan individual dan kurang berakar dalam kehidupan Gereja.[24]
              Menurut catatan Christian de Jonge dalam bukunya, “Menuju Keesaan Gereja”, usaha persatuan Gereja-gereja dapat disimpulkan dalam dua macam usaha. Yang pertama adalah mencari titik perjumpaan dalam kehidupan Gereja Kuno, terutama pada Pengakuan Iman Rasuli yang merupakan warisan bersama setiap Gereja. Hanya dengan itu, Gereja Katolik dapat meniadakan penyimpangan-penyimpangan yang muncul, dengan hasil yang pasti pula perpecahan Protestan segera berakhir. Usaha kedua adalah merumuskan daftar pasal-pasal iman yang fundamental atau azasi untuk Iman Kristen [missalnya; Pembenaran orang berdosa karena iman]. Sedangkan pasal-pasal iman yang dianggap tidak azasi [misalnya; Perjamuan Kudus] tidak boleh menjadi alasan untuk perpecahan Gereja. Lagi-lagi usaha pertama seperti yang dikatakan di atas masih terlalu bersifat intelektual untuk diterima secara umum. Sementara usaha kedua belum matang. Gereja-gereja masih terlalu mengindahkan rumusan-rumusan konfensionalnya masing-masing.[25]
              Barangkali periode abad ke-19 dapat menjadi titik berangkat gerakan ekumene yang nyata dan sistimatis, baik pada tingkat praktis [ibadat bersama dan kerja sama di berbagai bidang], maupun pada tingkat teologis [tukar pikiran antara para teolog] dan tingkat kelembagaan.[26] Usaha-usaha ini menjadi sangat maju terutama karena inspirasi dari gerakan yang disebut gerakan “Revivalisme” dan “Pietisme”.
Revival dan Pietisme merupakan gerakan Kristen awal yang mempersiapkan berdirinya Dewan Gereja-gereja se-Dunia. Mereka melihat keadaan Gereja saat itui sudah beku dan tidak sesuai lagi dengan kebutuhan zaman. Menurut mereka iman pertama-tama merupakan hal pribadi. Iman Kristen bertolak dari hati pribadi sehingga kesalehan dianggap sebagai yang terutama daripada keanggotaan Gereja atau penerimaan suatu konfensi. Dengan penekanan pada individu, maka konfensi Gereja direlativir. Sekaligus dibuka jalan untuk melihat lebih jauh dari batas-batas Gereja sendiri untuk mencari hubungan dengan orang-orang Kristen di Gereja-gereja lain yang juga mencoba memperdalam penghayatan pribadi akan iman Kristen. Oleh sebab itu, aliran ini menghimbau agar setiap Gereja harus bersikap terbuka dan merangkul dalam usaha mencari penghayatan yang sedalam-dalamnya akan Yesus Kristus dan keselamatan yang diberikan-Nya kepada setiap orang yang mau menerimannya.[27]
Kedua aliran ini lahir sebagai protes terhadap siatuasi Gereja yang dinilai tidak lagi relevan dengan perkembangan zaman. Orang-orang yang digerakan oleh kedua aliran ini berkobar-kobar semangatnya untuk mengabarkan injil di mana-mana, namun Gereja mereka sendiri bersikap malastau. Beberapa orang merasa bahwa usaha-usaha tak langsung ini belum cukup, sehingga terdorong oleh semangat ekumenis, mereka merasa perlu mengadakan hubungan yang lebih luas dan kongkrit. Terbukalah jalan untuk mencari kesatuan di dalam lembaga-lembaga ekumen.[28]
              Usaha mempersatukan umat Kristen dalam lembaga-lembaga ekumene pada periode perkembangan abad ke-19 dapat dijabarkan dalam empat usaha. Yang pertama adalah usaha mempersatukan umat Kristen dari Gereja-gereja yang mempunyai dasar teologis atau konfensional yang sama. Inilah yang disebut ekumene denominasional,[29] yang lahir dari tradisi Calvinisme. Usaha ini kemudian menghasilkan Reformed and Presbyterian Alliance [Perserikatan Gereja-gereja Reformasi dan Presbyterian][30] yang sejak 1954 memakai nama Alliance of Reformed Churches throughout the World holding the Presbyterian System [Perserikatan Gereja-gereja Reformasi di seluruh Dunia yang berpegang pada sistim Presbyterial], dan sejak bergabung dengan ICC pada tahun 1970 bernama World Alliance of Reformed Churceh  [WARC]. Usaha yang kedua adalah usaha mempersatukan umat Kristen dalam satu perhimpunan. Hasilnya adalah pembentukan Evangelical Alliance [Perserikatan Injili) di London pada tahun 1846. Pelopor utama gerakan ini adalah seorang pendeta Skotlandia, Thomas Chalmers (1780-1847), yang selain mendorong terciptanya keesaan Kristen [Protestan] juga mendorong kerja sama dengan Gereja katolik. Sumbangan positif gerakan ini dalam sejarah ekumene adalah pengadaan Minggu Doa Sedunia untuk meningkatkan kesadaran akan kesatuan dan persaudaraan, serta menerbitkan majalah ekumene pertama Evangelical Cristendom tahun 1847.[31]
              Sumbangan ketiga diberikan oleh apa yang disebut Voluntary Movement [Gerakan-gerakan Sukarela]. Dari gerakan inilah lahir organisasi-organisasi yang bersifat internasional. Misalnya Young Men’s Cristian Association [YMCA] didirikan tahun 1844. Young Women’s Christian Asociation [YWCA] didirikan pada tahun 1855. World Federation of Christian Student [WFCS] didirikan pada tahun 1895.[32] Voluntary Movement lahir karena pengaruh Revivalisme, gerakan kebangunan rohani, sehingga memiliki sikap yang sama terhadap batas-batas Gereja dengan Pietisme. Mereka menyatakan bahwa bukan konfensi Gereja yang penting, tetapi iman akan Kristus. Sehingga tugas orang-orang Kristen adalah mewartakan iman itu di tengah-tengah dunia. Bukan Gereja [dalam arti; lembaga/organisasi/konfensi] yang mempersatukan umat Kristen, melainkan tugas dan tujuan bersama, yaitu pewartaan kehidupan Kristus. Oleh karena itu, karya Gereja sesungguhnya karya penginjilan. Dan usaha yang keempat adalah follow up dari usaha yang ketiga, terutama ketika dibentuk  lembaga-lembaga pekabaran injil. Kerja sama dalam bidang pekabaran injil ini kemudian menghasilkan Lembaga Alkitab yang pertama, yaitu British and Foreign Bible Society [Lembaga Alkitab British dan Luar Negeri] tahun 1804.[33]
              Puncak dari seluruh jejak usaha mempersatukan umat Kristen pada periode abad ke-19 adalah Konferensi Pekabaran Injil Sedunia di Edinburg tahun 1910. Tahun inilah yang kemudian diakui dan dipakai sebagai tanggal kelahiran gerakan ekumene. Dua orang pelopor konferensi Edinburg adalah John Releigh Mott [1865-1955] dan Joseph H. Oldham [1874-1969], keduanya orang awam yang telah terlibat secara aktif dalam gerakan penginjilan sejak di YMCA. Yang menjadikan konferensi Edinburg sebagai pilar penting dalam sejarah perkembangan gerakan ekumene ke depan adalah karena konferensi itu melibatkan lembaga-lembaga Pekabaran Injil di seluruh dunia. Catatan kecil di sini ialah; gerakan ekumene tidak lagi dilihat sebagai usaha orang perorangan melainkan sebagai Gereja-gereja.[34] Konferensi ini bertujuan membangun kerja sama antar Gereja-gereja Kristen di daerah-daerah penginjilan, terutama mencari jalan keluar untuk menghilangkan konflik, salah paham dan bermacam-macam denominasional Gereja yang pada waktu itu sudah semakin parah. Gerakan ini membuka diri juga bagi Gereja Katolik dan Gereja-gereja Timur, tetapi perhatian utamanya ditujukan khusus mempersatukan Gereja-gereja Protestan.[35] Konferensi ini menghasilkan tiga keputusan yang membuka jalan bagi gerakan ekumene. Pertama, peserta merasakan pentingnya gerakan penginjilan ke seluruh dunia. Kedua, berusaha membentuk dan mengembangkan Gereja nasional yang berdiri dalam mencukupi kebutuhan sendiri [self-supporting], mengatur diri sendiri [self-governing] dan mengembangkan diri [self-propagating]. Ketiga, menjalin kerja sama menciptakan keesaan Gereja [cooperation and unity].[36] Akibat dari konferensi di Edinburg, lahirlah tiga badan yang kemudian menyatu dalam Dewan Gereja-gereja Sedunia; International Missionary Council [1921-1961], Universal Christian Council for Life and Work [1910-1937] dan World Conference of Faith and Order [1919-1937].[37]

1.2.1.1. International Missionary Council (1921-1961).
Setelah konferensi di Edinburg, beberapa pimpinan Gereja menyusun program dan setelah mengadakan persiapan, maka pada tahun 1921 membentuk satu badan yang diberi nama International Missionary Council [Dewan Pekabaran Injil Internasional]. IMC sendiri berpusat di London dan New York. Badan ini bukan kumpulan orang perorangan, melainkan organisasi-organisasi kerja sama di bidang Pekabaran Injil, seperti dewan-dewan Pekabaran Injil nasional yang mulai didirikan sejak Edinburg. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kerja sama di lingkungan umat Kristen dalam gerakan penginjilan.[38] Badan ini menyelenggarakan pertemuan sebanyak tujuh kali, bertempat di Jenewa (1921), Yerusalam (1928), Madras (1938), Wihitby (1947), Willingen (1957), Ghana (1958), New Delhi (1981). Secara singkat dikatakan bahwa badan ini bergerak dalam lapangan misi yang luas, mencakup dimensi sosial, ekonomi bahkan juga politik, yang perlahan-lahan mengaburkan jiwa dan tujuannya sebagaimana tertuang dalam konferensi IMC tahun 1921. Sehingga badan ini akhirnya secara resmi menggabungkan diri dengan World Council of Churces tahun 1961.[39]


1.2.1.2. World Conference of Faith and Order (1910-1937)
              Setelah konferensi di Edinburg, beberapa pemimpin Gereja merasa perlu secara serius, aktif dan konkret membicarakan tentang masalah teologi dan tata Gereja. Usaha ini dipelopori oleh Charles H. Brent (1862-1929) seorang Amerika yang menjabat uskup Episkopal di Filipina dan Barat New York. Charles mendorong Gerejanya sendiri untuk bertindak bagi karya ekumene, dan kemudian membentuk suatu panitia untuk mengundang Gereja-gereja ke dalam konferensi yang diselenggarakan di Lausanne, Swiss tahun 1927. Tujuan Faith and Order adalah untuk mencari jalan menuju keesaan Gereja. Masalah-masalah utama yang dibicarakan dalam konferensi ini adalah mengenai eklesiologi, masalah tata Gereja, serta hubungan pejabat Gereja dengan jemaat awam. Faith and Order kemudian bekerjasama dengan gerakan Life and Work (Hidup dan Kerja). Kedua gerakan ini yang secara formal kemudian membentuk Dewan Gereja-gereja se-Dunia pada tahun 1948 . Salah satu dokumen penting yang dihasilkan oleh konferensi Faith and Order adalah Baptism, Eucharist, and Ministry yang membicarakan mengenai baptisanperjamuan kudus dan pelayanan dalam Gereja.[40] Dokumen inilah yang kemudian mendasari banyak perjanjian pengakuan bersama antar Gereja. 

1.2.1.3. Universal Christian Council for Life and Work (1919-1937)
Setelah konferensi Edinburg, beberapa pemimpin Gereja merasakan perlunya kebenaran Injil dapat dihayati dalam kehidupan masyarakat, sehingga mereka mengadakan aksi pelayanan di bidang kemasyarakatan. Tokoh penting yang menjadi pelopor gerakan Life and Work adalah Nathan Soderblom, uskup besar dari Uppsala, Swedia. Nathan menghendaki sebuah karya penginjilan yang membumi agar kebenaran-kebenaran injili dapat langsung dirasakan dan dihayati di tengah-tengah masyarakat. Itu berarti setiap Gereja harus keluar dari keadaan keterpecahan dan sikap acu-tak acuh satu sama lain, untuk bekerja sama menyelesaikan masalah-masalah kemasyarakatan. Menurutnya, “ajaran dapat memisahkan, tetapi kehidupan mempersatukan [de leer verdeelt, maar het leven veernight].[41] Pemikiran ini menjadi titik pangkal yang memprakarsai konferensi-konferensi Life and Work.
Konferensi Life and Work yang pertama diadakan di Stockholm, Swedia (1925). Enam pokok dibicarakan dalam konferensi ini, yakni tentang tugas dan kewajiban Gereja dalam tata rencana keselamatan Allah, Gereja dan masalah-masalah ekonomi dan industri, Gereja dan masalah-masalah sosial-moral, Gereja dan hubungan-hubungan Internasional, Gereja dan pendidikan Kristen, serta langkah-langkah praktis bagi kerja sama lembaga-lembaga Kristen.[42] Setelah itu, konferensi Life and Work yang kedua dilaksanakan di Oxford (1937) dengan tema “Let the Church be the Church” [semoga Gereja-gereja tetap bersatu]. Konferensi ini membicarakan pokok-pokok tentang Gereja dan persekutuan, Gereja dan Negara, Gereja dan Negara dalam hubungan dengan tata ekonomi, Gereja dan Negara dalam hubungan dengan pendidikan, serta Gereja universal dan dunia bangsa-bangsa.  [perbincangan berkaitan dengan , dan Utrecht (193).[43] Tujuan Life and Work adalah untuk menyingkirkan kecenderungan yang bersifat memecah belah demi membangun keesaan Gereja yang nyata. Kerja sama praktis bukanlah sebuah jalan yang gampang, tetapi harus segera diambil langkahnya mengingat hal itu merupakan segi lain dari hakekat Gereja yang dipanggil untuk memperdamaikan dan melayani dalam keesaan. Lembaga ini berusaha mempersatukan pandangan dan pemikiran teologi, serta arah pelayanan yang berdampak positif bagi kesaksian Gereja terhadap dunia. [Catatan; bahwa gerakan ini sangat positif dan tepat, khususnya pada saat pemikiran Marxisme dan Atheisme sedang naik daun, sehinga kesatuan umat Kristen menjadi senjata yang ampuh untuk berapologi terhadap pemikiran-pemikiran tersebut].
             
1.2.2. World Council of Churches [Dewan Gereja-gereja se-Dunia]
              Di atas telah disinggung tentang tiga badan yang meletakkan dasar bagi terbentuknya DGD, namun secara umum diterima Konferensi Pekabaran Injil di Edinburg sebagai yang pertama-tama mendorong lahirnya DGD. Faith and Order adalah gerekan yang timbul dari konferensi di Edinburg dan mengabdikan diri pada usaha mempersatukan kembali berbagai aliran agama Kristen. Life and Work adalah gerakan lainya yang meliputi hubungan iman Kristen dengan masalah-masalah sosial, politik dan ekonomi. Dan Dewan Pekabaran Injil Internasional yang lebih langsung tumbuh dari konferensi di Edinburg. Tetapi secara formal Dewan Gereja-gereja se-Dunia baru disetujui pembentukannya dalam pertemuan yang diadakan oleh Faith and Order dan Life and Work tahun 1937. Setahun setelah rapat kecil itu, diadakan konferensi di Utrecht tahun 1938 yang membuahkan  sebuah naskah tata dasarnya bagi pembentukan DGD. Namun karena alasan Perang Dunia II menunda peresmian dewan tersebut selama sepuluh tahun lagi.[44] Dewan Gereja-gereja se Dunia [World Council of Churches] resmi didirikan di Amsterdam, pada siding pertamanya tahun 1948. Hadir juga wakil dari Gereja Ortodoks, sementara wakil resmi dari pihak Gereja Katolik tidak hadir.[45] Di bawah ini adalah daftar konferensi-konferensi DGD yang pernah diadakan;
Konferensi I di Amsterdam (1948) bertema "Kekacauan Manusia dan Rancangan Allah".
Konferensi II di EvanstonIllinois, Amerika Serikat (1954) bertema "Kristus Pengharapan Dunia".
Konferensi III di New Delhi, India (1961) bertema "Kristus Terang Dunia".
Konferensi IV di Uppsala, Swedia (1968) bertema "Lihatlah, Aku Jadikan Semuanya Baru".
Konferensi V di Nairobi, Kenya (1975) bertema "Yesus Kristus Membebaskan dan Mempersatukan”.
Konferensi VI di Vancouver, Kanada (1983) bertema "Yesus Kristus Terang Dunia".
Konferensi VII di Canberra, Australia (1991) bertema "Datanglah ya Roh Kudus, Perbaruilah Seluruh Ciptaan".
Konferensi VIII di Harare Zimbabwe (1999) bertema "Berbaliklah kepada Allah, Bersukacitalah di dalam Pengharapan".
Konferensi IX di Porto Alegre, Brasil (2006) bertema "Ya Allah, di dalam Anugerah-Mu, Perbaruilah Dunia".[46]

              Dewan Gereja-gereja se-Dunia [DGD] bukan merupakan organisasi “Super Gereja”, melainkan sebagai lembaga kerja sama yang berfungsi member nasihat-nasihan dan membina bagi karya Gereja di tengah-tengah dunia. Lembaga ini tidak berkuasa untuk campur tangan dalam hal-hal dasar suatu Gereja, atau membuat peraturan bagi Gereja-gereja tanpa persetujuan mereka. Namun agar lembaga ini mempunyai peran yang efektif, ia harus memperoleh respek dari Gereja-gereja dalam begitu rupa, sehingga orang-orang yang paling berpengaruh di dalam kehidupan Gereja-gereja akan bersedia menyediakan waktu dan menyumbangkan pikirannya untuk karyanya.[47] Tujuan DGD dapat dijabarkan sebagai berikut; Pertama adalah memanggil Gereja-gereja kepada pencapaian kesatuan yang nampak jelas dalam satu iman dan persekutuan di dalam Yesus Kristus. Kedua adalah membantu Gereja-gereja dalam tugas penginjilan dunia dan mewujudkan kepentingan bersama Gereja dalam pelayanan kebutuhan manusia. Dan ketiga, merumuskan karya dari pergerakan-pergerakan sedunia untuk lembaga Iman dan Tata Gereja, Hidup dan Karya, Dewan Pekabaran Injil, se rta Dewan Pendidikan Kristen se-Dunia.[48]

Kesimpulan
              Tujuan gerakan ekumene pertama-tama untuk membuka dinding-dinding pemisah antar Gereja masing-masing demi Gereja Kristen bersatu. Untuk mengusahakan hal ini Gereja harus memiliki arah dan tujuan yang jelas, jika tidak, maka bangunan keesaan itu akan mudah terombang-ambing oleh perubahan dan kemajuan zaman. Gerakan ekumene muncul dari kesadarah akan warisan yang satu dan sama, yaitu pengakuan iman rasuli, sehingga perbaikan keadaan Gereja akibat perpecahan lahir dari warisan Gereja Kuno ini.[49] Tetapi terutama persatuan Kristen adalah doa dan kehendak Yesus sendiri kepada umat-Nya, “supaya mereka bersatu sama seperti Kita” (Yoh 17:11). Doa ini mengungkapkan isi hati dan kerinduan Yesus agar orang-orang yang percaya kepada-Nya bersatu. Campur tangan Roh Kudus pun selalu tepat dalam menjawab kebutuhan-kebutuhan Gereja bagi usaha membangun keesaan Kristen.[50]
              Bila menelusuri sejarah perkembangan gerakan ekumene di atas, terutama usaha persatuan Kristen abad ke-19, maka gerakan ekumene Protestan sejatinya didorong kepada karya misioner Gereja. Para pelopor yang telah disebut namanya, bahkan mereka yang dengan caranya sendiri-sendiri telah mengusahakan persatuaan Kristen, atas keberadaan mereka di tengah-tengah sejarah gerakan ekumene telah menjawab apa yang sebenarnya Allah tugaskan kepada mereka. Allah memanggil dan memilih mereka untuk menyampaikan cinta kasih dan kabar keselamatan Allah kepada bangsa-bangsa. Meskipun dalam cara pewartaan yang masih tradisional, yang penting bagi mereka adalah mengabarkan injil di tengah-tengah dunia yang mereka layani. Lembaga-lembaga misi pada abad ke-19 kebanyakan tidak memiliki hubungan resmi dengan Gereja-gereja yang ada. Bagi kelompok-kelompok Pietis pun pelaksanaan karya misi tidak selalu terpaku pada lembaga konfensional tertentu [Gereja negara, Gereja rakyat, bahkan Gereja formal, bukan menjadi syarat bagi karya misi yang efektif]. Mereka menjadi saksi-saksi injil di tengah-tengah dunia.[51] Pandangan ini sejalan dengan apa yang disebut oleh Konsili Vatikan II tentang tujuan gerakan ekumene sebagai usaha perwujudan karya misi Gereja, dimana di dalamnya Gereja mengikuti jejak Kristus mewartakan sabda kebenaran ditengah-tengah dunia dan melahirkan Gereja-gereja [AG 1].[52] Misi tidak seharusnya dipersempit, hanya dalam konteks Gereja-gereja, karena misi harus menyangkut manusia seutuhnya [EN 33].[53]
              Meskipun mereka bisa taat pada panggilan Allah, namun ada kesadaran bahwa lapangan misi begitu luas dan kompleks. Banyak tantangan di dalam karya misi yang tak mampu bila hanya dipecahkan sendiri. Terutama ketika berjumpa dengan kelompok-kelompok lain yang memiliki jiwa dan panggilan yang satu dan sama dalam karya misi. Itulah sebabnya mereka harus saling merangkul, bertemu untuk membangun kerja sama demi karya-karya misi yang lebih maju dan efektif. Mereka melebur ke dalam lembaga-lembaga formal yang memungkinkan kerja sama pewartaan injil itu berjalan. Inilah arah ekumene itu, yaitu kesadaraan akan panggilan kepada persatuan dan kerja sama orang-orang Kristen demi pelaksanaan karya misi Gereja. Gereja harus bersatu, karena itu merupakan syarat mutlak bagi misi dan pekabaran injil.[54] Persatuan Gereja terarah pada karya misi Gereja, yaitu Confersio Gentilium [Penobatan Kaum Kafir], Plantatio Ecclesiae [Menanam Gereja) dan Gloria et Manifestatio Gratiae Divinae (Kemuliaan dan Penanaman Kasih Allah)[55] di tengah-tengah dunia.


[1] Bdk. Drs. P.K. Pilon, Ut Omnes Unum Sint: Oikumeneika Bagian Sejarah (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1973), hlm. 10.

[2] Bdk. Weinata Sairin, M.Th, Gereja, Agama-Agama dan Pembangunan Nasional (Jakarta: BPK Gunung Mulia), hlm. 81.

[3] Bdk. Dr. Josef Koningsmann, Gerakan dan Praktek Ekumene (Ende: Nusa Indah, 1986), hlm. 11.

[4] Bdk. Dr. Christiaan DeJonge, Menuju Keesaan Gereja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010),  hlm. XVII

[5] Bdk. Ibid

[6] A.S. Suhardi, “Apakah Arti Perkataan Ekumene”, dalam Hak Kerukunana, thn V. no. 26/27, MAWI, 1983), hal. 5

[7]Bdk. Ibid

[8] Konsili adalah pertemuan dalam agama Kristen, yang biasanya diselenggarakan untuk mengambil keputusan menyangkut masalah doktrin, administrasi atau aplikasi. Sebuah konsili disebut konsili ekumenis karena merupakan pertemuan dari seluruh Gereja. Terdapat 21 konsili ekumenis, namun menurut catatan Drs. P.K. Pilon secara resmi Konsili Konstantinopel (381) merupakan yang pertama-tama disebut konsili ekumenis. Bdk. Drs. P.K. Pilon, Ut Omnes Unum Sint: Oikumeneika Bagian Sejarah (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1973), hlm. 11.
[9] Bdk. Drs. P.K. Dilon, Ut Omnes Unum Sint: Oikumeneika Bagian Sejarah (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1973), hlm. 11.

[10] Bdk. Ibid.

[11] Bdk. Ibid, hlm. 12.

[12] Bdk. Dr. Christiaan DeJonge, Menuju Keesaan Gereja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia,2010), hal. XVIII

[13] Bdk. Drs. P.K. Dilon, Ut Omnes Unum Sint: Oikumeneika Bagian Sejarah (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1973), hlm. 13.

[14] Bdk. Weinata Sairin, M.Th, Gereja, Agama-Agama dan Pembangunan Nasional (Jakarta: BPK Gunung Mulia), hlm. 82.

[15] Bdk. Dr. Arie de Kuiper, Missiologi (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1972) hlm. 74.
[16] Bdk. Drs. P.K. Dilon, Ut Omnes Unum Sint: Oikumeneika Bagian Sejarah (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1973), hlm. 13.
[17] Bdk. Dr. Josef Koningsmann, Gerakan dan Praktek Ekumene (Ende: Nusa Indah, 1986), hlm. 25.

[18] Bdk. Dr. Christiaan DeJonge, Menuju Keesaan Gereja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia,2010), hal. XVIII.

[19] Bdk. Timotius Kurniawan Sutanto, 3 Dimensi Keesaan Dalam Pembangunan Jemaat (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008) hlm. 17.

[20]Bdk. Thomas P. Rausch, Katolisisme: Teologi Bagi Kaum Awam (Yogyakarta: Kanisius 2001), hlm. 353

[21] Bdk. Dr. Christiaan DeJonge, Menuju Keesaan Gereja, (Jakarta, BPK Gunung Mulia,2010), hal. 3

[22] Bdk. Dr. Th. Van den End, Harta Dalam Bejana, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1970), hlm. 295.

[23] Bdk. Dr. Jan S. Aritongan & Dr. Chr. De Jonge, Apa Dan Bagaimana Gereja; Pengantar Sejarah Eklesiologi (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009) hlm. 54

[24] Bdk. Dr. Christiaan DeJonge, Menuju Keesaan Gereja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia,2010), hlm. 4.

[25] Bdk. Ibid, hlm. 5

[26] Bdk. Adolf Heuken, S.J, “Ekumene”, dalam Ensiklopedi Gereja, jilid I, (Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka, 1991), hlm. 282.

[27] Bdk. Dr. Christiaan DeJonge, Menuju Keesaan Gereja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia,2010), hlm. 5.

[28] Bdk. Dr. Th. Van den End, Harta Dalam Bejana (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1970), hlm. 296.

[29] Bdk. Dr. Jan S. Aritongan & Dr. Chr. De Jonge, Apa Dan Bagaimana Gereja; Pengantar Sejarah Eklesiologi (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009) hlm. 44.

[30] Istilah Reformed yang sebenarnya hanya berarti “yang direformasikan” dipakai untuk menujuk Gereja-gereja Protestan yang memelihara tradisi Calvinisme, yaitu bentuk Protestan yang dikembangkan oleh Yohanes Calvin di Jenewa. Dengan istilah Reformed Gereja-gereja ini dibedakan dari Gereja-gereja Lutheran, Methodis dan sebagainya. Sementara istilah Presbyterian(isme) khususnya dipakai di dunia yang berbahasa Inggris) Bdk. Ibid, hlm. 45.

[31] Bdk. Dr. Christiaan DeJonge, Menuju Keesaan Gereja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia,2010), hlm. 6.

[32] Bdk. Ibid, hlm. 7.

[33] Bdk. Ibid
[34] Bdk. Dr. Th. Van den End, Harta Dalam Bejana (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1970), hlm. 296.

[35] Bdk.  Frederiek Djara Wellem, “Konferensi Edinburg”, dalam Kamus Sejarah Gereja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006) hlm. 222.

[36] Bdk. Ibid

[37] Bdk. Dr. Th. Van den End, Harta Dalam Bejana (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1970), hlm. 296.

[38] Bdk. Dr. Christiaan DeJonge, Menuju Keesaan Gereja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia,2010), hlm. 13.

[39] Bdk. Ibid, hlm. 18

[40] Bdk. Dr. Th. Van den End, Harta Dalam Bejana (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1970), hlm. 296.
[41] Bdk. Dr. Christiaan DeJonge, Menuju Keesaan Gereja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia,2010), hlm. 33.

[42] Bdk. Ibid, hlm. 30.

[43] Bdk. Ibid, hlm. 32.
[44] Bdk. Tony Lane, Runtut Pijar Sejarah Pemikiran Kristiani (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007) hlm. 272.

[45] Bdk. P.K. Pilon, Ut Omnes Unum Sint (Jakarta: BPK Gunumg Mulia, 1975) hlm. 51.

[46] Bdk. “Dewan Gereja-gereja se-Dunia” dalam http://id.wikipedia.org (diunduh pada tanggal 28 Desember 2011 Pkl. 22.35 WITA)

[47] Bdk.  Ibid

[48] Bdk. Tony Lane, Runtut Pijar Sejarah Pemikiran Kristiani (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007) hlm. 273.

[49] Bdk. Dr. Christiaan DeJonge, Menuju Keesaan Gereja, (Jakarta, BPK Gunung Mulia,2010), hal. 4

[50] Bdk. Dr. Richard Daulay, M.Th & Rahel Daulay, S.Th, “Bersatu Kita Teguh Bercerai Kita Runtuh” dalam Firman Hidup 70 (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008) hlm. 56.
[51] Bdk. Dr. Arie de Kuiper, Missiologi (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1972) hlm. 75.

[52] Bdk. Edmund Woga, CSsR, Dasar-Dasar Missiologi (Yogyakarta: Kanisuis, 2002) hlm. 174.

[53] Bdk. Ibid, hlm. 175.

[54] Bdk. Dr. Richard Daulay, M.Th & Rahel Daulay, S.Th, “Bersatu Kita Teguh Bercerai Kita Runtuh” dalam Firman Hidup 70 (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008) hlm. 56.

[55] Bdk. Dr, Eka Darmaputra, Struggling In Hope; Bergumul dalam Pengharapan (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004) hlm. 146.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar