Rabu, 08 Februari 2012

REFLEKSI KRITIS DAN SUMBANGAN PEMIKIRAN ATAS SENI SUCI LITURGI ZAMAN KINI

BAB III
REFLEKSI KRITIS DAN SUMBANGAN PEMIKIRAN
ATAS SENI SUCI LITURGI ZAMAN KINI
(Oleh Sandro Letsoin)

III.1. Perkembangan Seni Suci Dan Pengaruhnya Dalam Kreativitas Seni Suci Liturgi Zaman Sekarang
Untuk menilai persoalan seni suci liturgi zaman sekarang, kita harus menjejaki dari persoalan yang terjadi masa lalu. Perkembangan seni suci abad pertengahan adalah penting untuk dianalisis, karena memiliki pengaruh yang kuat dalam seni suci liturgi sampai sekarang. Lebih khusus lagi kita melihat perkembangan seni suci liturgi zaman Ghotik, Renaissance dan zaman Barokh. Ketiga zaman ini memberikan kontribusi penting bagi Gereja untuk menentukan jalur ekpresi dan penggunaan seni suci dalam liturgi yang sesuai dengan iman.
Menurut pemikiran penulis, ada tiga persoalan penting yang dihadapi oleh Gereja masa kini berkaitan dengan peran seni suci liturgi yaitu menyangkut teosentrisme, antroposentrisme dan ikonoklasme. Ketiga persoalan ini sama-sama berkaitan dengan penghayatan iman Gereja.
III.1.1.Teosentrisme/Vertikalisme
Teosentrisme adalah suatu pandangan manusia yang sangat menekankan kemuliaan, misteri atau transendensi Tuhan. Segala sesuatu mengalir dari Tuhan, maka pusat hidup manusia bertitik tolak pada eksistensi-Nya. Dalam seni suci, aliran yang berpengaruh untuk memberi warna pada pola rasa manusia dalam konteks Teosentrisme adalah aliran impresionisme dan ekspresionisme.[1] Dalam konteks Teosentrisme juga, Zaman Gotik amat berpengaruh kuat dalam ekspresi iman Gereja. Dalam zaman dimaksud, perancangan karya seni suci liturgi menampilkan simbol kemuliaan dan keagungan Tuhan, misteri dan transendensi Allah yang tak terselami mendorong  perasaan terpukau pada rahmat Allah.[2]
III.1.2. Antroposentrisme/Horisontalisme
Antroposentrisme adalah suatu komposisi yang melebar pada peran sentral manusia. Manusia dan dunianya menjadi medan refleksi dan penekanan penting untuk berkorelasi dengan yang transenden. Zaman ini, perlahan-lahan berujung pada profanisasi karya seni suci yang berawal dari zaman Renaissance dan berpuncak pada zaman Barok/zaman dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan (filsafat). Dalam karya seni, aliran ini memainkan perannya dalam memberi warna terhadap realisme dan naturalisme[3]. Perkembangannya disebabkan oleh dua hal, yaitu: pertama, peran agama dicampuradukan dengan duniawi oleh saudagar dan hartawan/raja.[4] Kedua, sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan filsafat khususnya ilmu positivisme yang menekankan tentang kebenaran ilmiah yang masuk akal. Konsekuensinya, meta inderawi tidak dapat diverifikasi dan dianggap non sence (tidak bermakna/bernilai). Sejalan dengan konteks dimaksud, Gereja senantiasa aktif menghiasi tempat-tempat ibadat (gedung gereja/Basilika dan kapel-kapel) dengan gaya seni ini. Seiring dengan sikap gereja demikian, muncullah ikonoklasme (sebuah paham/aliran baru) dengan sebuah reaksi iman untuk menentang serta mengkritisi sikap gereja yang anti ikon-ikon/gambar dan patung-patung kudus.
III.1.3. Persoalan Ikonoklasme
Persoalan ikonoklasme, timbul sebagai reaksi menentang tradisi Gereja, yang dianggap telah menonjolkan karya manusia dan serentak bertentangan dengan pokok iman. Tentang persoalan ini, Santo Yohanes Damaskus memberi komentar kepada kaisar Leo Iconoclastic III "Anda tidak berjuang melawan ikon", "tetapi melawan orang-orang kudus." Sikap St. Yohanes Damaskus menunjukkan satu pandangan iman yang mendalam, bahwa pemahaman ikon/gambar pada saat itu benar-benar sebagai simbol yang menghadirkan apa yang ditandakan. Maka melawan, menentang, salah dipergunakan, dan tidak diberi hormat atas ikon/gambar suci sama perlakuannya bagi apa yang sebenarnya disimbolkan.
Persoalan ini sempat menyadarkan Gereja untuk membenahi semua karya seni suci yang berkembang. Dampaknya tentu membatasi semua ekspresi seniman terhadap kreativitasnya dalam kegiatan seni. Ketiga persoalan ini memiliki pengaruh yang kuat dalam kreativitas seni suci liturgi pada zaman selanjutnya.

III.1.4. Suatu Penilaian
Persoalan tentang ikonoklasme (penghancuran gambar-gambar kudus) memiliki dampak yang serius sampai saat ini. Pada saat maraknya peran gambar dan patung kudus zaman lampau harus dilihat dari beberapa segi positif dan negatifnya. Dari segi positif, penciptaan karya seni suci dalam liturgi atau diluar liturgi dilihat sebagai bentuk pertumbuhan dan pembentukan iman Gereja. Gambar dan patung kudus memberikan satu catatan sejarah perkembangan iman dan surutnya penghayatan iman. Di zaman Gothik, iman umat boleh dikatakan kuat dan berakar. Hal ini dapat dinilai dari ekspresi iman yang diabadikan dalam bentuk perancangan interior gereja yang dipenuhi dengan banyak gambar dan patung kudus. Yang mau ditekankan di sini adalah penghayatan iman Gereja pada saat itu sungguh murni teosentris (berpusat pada Tuhan)[5]. Maka, semua bentuk ekspresi iman lewat karya seni suci bukan lagi dipikirkan sebagai penyembahan berhala, tetapi simbol akurat manusia dalam mengabdi kepada Allah melalui Yesus Kristus, dan para kudus sebagai petunjuk jalan yang terpercaya.
            Segi negatifnya bahwa dalam perkembangan seni suci, Gereja memberikan kebebasan sepenuhnya kepada para seniman untuk mengekspersikan imannya berdasarkan cerita Kitab Suci. Kebebasan ini mengakibatkan terjadi ketimpangan ekpresi seni suci ke dalam seni profan. Para seniman kini dikendalikan oleh para bangsawan dengan berbagai bisnis dan kepentingannya sehingga menghasut seniman untuk melukiskan riwayat istana dan tokoh-tokoh yang berpengaruh. Konsekwensinya bahwa seni suci mengalami bentuk yang tidak murni suci. Dalam situasi seperti ini, hendak diperlihatkan bagaimana pola pemikiran tentang peran manusia/antroposentrisme mulai berkembang seiring perkembangan ilmu pengetahuan. Inilah zaman yang dikenal dengan renaisance, suatu pencerahan baru yang mendorong iman menjadi semacam ghetto intelektual dan bahkan sosial[6]. Sebuah model ikonoklasme baru muncul dalam budaya kontemporer yang memungkinkan iman berpaling ke jalan lain. Bahkan iman berusaha kompromi atau malah hilang sendiri. Kardinal Yosef Razinger menegaskan tentang situasi ini:
Pada zaman ini kita tidak hanya mengalami krisis seni sakral, tapi krisis seni secara umum, suatu bentuk yang belum pernah terjadi sebelumnya. Krisis seni ini merupakan gejala dari krisis keberadaan manusia. Pertumbuhan besar dalam penguasaan manusia tentang dunia materi telah meninggalkan dia buta terhadap pertanyaan makna hidup yang melampaui dunia materi. Kita hampir bisa menyebutnya sebagai kebutaan roh. Pertanyaan tentang bagaimana kita harus hidup, bagaimana kita bisa mengatasi kematian, apakah keberadaan memiliki tujuan dan apa itu - untuk semua pertanyaan ini tidak ada lagi jawaban yang umum.[7]

Satu zaman yang bertentangan dengan iman. Pola berpikir mengikuti pandangan ilmu Positivisme yang mempersempit cakrawala iman dengan apa yang diverifikasi (sesuatu yang dapat dibuktikan dengan percobaan). Iman dianggap tidak bisa diverifikasi/dibuktikan karena itu arah yang tepat adalah realitas dunia yang bisa ditangkap dengan panca indera.
III.2. Pengaruh ketiga persoalan di atas pada zaman sekarang
III.2.1. Seniman
III.2.1.1. Daya Ekspresi Seniman Bersama Komisi Liturgi Keuskupan
III.2.1.2. Pola pembinaan Seniman liturgi
III.2.2. Bentuk seni suci liturgi dalam Interior Gereja
III.2.2.1. Gambaran Umum

III.3. Beberapa masukan dan saran yang perlu diperhatikan dalam menata Interior Gereja
Dalam Documents on the Liturgy, 1963-1979: Conciliar, Papal, and Curial Texts  DOL 547, dikatakan bahwa: " Gereja perdana memahami, gedung gereja sebagai tempat untuk mendengarkan Firaman Tuhan, berdoa bersama-sama, menerima sakramen, dan untuk merayakan ekaristi (RDCA, No. 1)[8]. Oleh karena itu, bangunan rumah Allah (Domus Dei) itu harus menjadi ekspresif kehadiran Allah dan cocok untuk perayaan pengorbanan Kristus, serta mencerminkan anggota Gereja (Domus Ecclesiae) yang berdoa. Dari penegasan ini, penulis memberikan usulan dan saran sebagai satu masukan untuk diperhatikan bersama.
III.3.1. Kreativitas Seni Rupa dalam Gereja
III.3.1.1. Altar
Altar merupakan tempat untuk mengadakan dan mempersembahkan kurban Anak Domba Allah, meja kurban keselamatan. Karena itu, altar perlu ditata dan dirancang dari kreatifitas seniman agar sungguh anggun, menarik, berwibawa dan bermutu dari bahan (materi) dan ukiran/lukisan kudus yang mensimbolkan kegunaan tempat tersebut. Altar setidak-tidaknya harus ada ukiran/gambar tentang peristiwa perjamuan malam terakhir Yesus, dengan lambang-lambang yang mendukungnya. Penempatan seni kudus itu dimaksudkan agar kondisi altar menampilkan dan menciptakan suasana kesakralan.
III.3.1.2. Mimbar
Mimbar menjadi tempat untuk mewartakan Sabda Allah kepada umat beriman. Karena itu, tempat tersebut harus dirancang dengan anggun, bermutu, sehingga menjadi tempat pemakluman Sabda Allah. Gambar/simbol yang dipadukan dengan bentuk perancangan yang dapat memantulkan kemuliaan Allah melalui SabdaNya. Oleh karena itu, mimbar perlu diukir dengan seni relief berupa simbol-simbol kudus yang dapat membawa pesan Sabda Allah ke kedalaman hati umatNya.
III.3.1.3. Tabernakel
Tabernakel merupakan tempat penyimpanan Sakramen Maha Kudus. Karena itu, hendaknya dibuat dari logam, besi, emas, atau lebih sederhana biasanya dari kayu. Tempat kudus tersebut dirancang secara artistik, dengan ukiran-ukiran, yang mempunyai motif, gambar dan simbol yang dapat menggambarkan kekudusan dan keindahan Tuhan. Dalam kreatifitasnya, berbagai motif atau ukiran disesuaikan dengan budaya setempat agar dapat dimengerti dan bermanfaat bagi orang awam.
III.3.1.4. Penataan Gambar, Lukisan dan Patung kudus
Penataan gambar, lukisan dan patung kudus dibuat dengan kerja sama seniman dan petugas gereja (imam/uskup). Tujuannya mendukung devosional umat, dan sebagai pengungkapan satu kesatuan yang mengarah pada inti liturgi keselamatan. Seni kudus tersebut dipajang dalam jumlah yang terbatas, agar tidak mengalihkan perhatian umat dari inti liturgi yang dirayakan. Diatur dengan serasi dan baik agar menghantar suasana hati yang penuh hormat kepada Allah[9].
Satu kenyataan yang dihadapi dalam interior gereja bahwa terkesan terlalu minimalistis dan tidak lengkap. Misalnya, penempatan patung dan gambar Yesus, Maria, St. Yosep atau Santo dan santa sebagai pelindung gereja tersebut jarang lengkap. Khusunya, santo/santa pelindung dari gereja tersebut tidak dibuat patung atau gambar untuk ditempatkan di luar atau di dalam gereja. Kenyataan seperti ini ditemukan di stasi yang diteliti, yakni stasi Poniki.

III.3.1.5. Sikap Iman yang tepat dalam Devosi
Sesuai dengan anjuran Gereja, kegiatan devosi atau corak penghormatan atau doa dihadapan gambar dan patung kudus, harus dengan batas-batas kewajaran (KHK can. 1188). Sebab, sikap berdoa yang berlebihan dapat menimbulkan satu kecurigaan dan pertanyaan dari golongan agama lain. Penegasan Gereja di sini memiliki kaitannya dengan persoalan yang pernah dialami oleh Gereja, yaitu suatu tuduhan bahwa Gereja Katolik menyembah gambar dan patung yang merupakan bentuk penyembahan berhala.  Selain menghindari sanggahan dari luar, Gereja juga menjaga agar dengan sikap berlebihan, perayaan liturgi diabaikan.
III.3.1.6. Busana Liturgis
Busana liturgi dirancang sesuai dengan warna dan tahun liturgi. Motif busana disesuaikan dengan budaya setempat, dengan tetap mempertimbangkan mutu dan kelayakan dalam perayaan liturgis; serta fungsi dan maknanya sesuai dengan keyakinan iman (sebagai ungkapan kebesaran dan kehormatan pakaian Kristus).
III.3.1.7. Hiasan Tahun Liturgis
Hiasan-hiasan tahun liturgi, seperti: krans adven, lukisan/kandang natal dan pohon natal, lilin paskah dan lain-lain, hendaknya dihias dengan memperhatikan fungsinya dan unsur keindahan yang wajar. Bentuk dan posisi hiasan-hiasan tersebut tetap menjunjung tinggi arti dan makna serta ekspresi unsur estetis. Mengenai bahan, pemanfaatan seni dan dekorasi dari kebudyaan setempat, dengan menggunakan simbol-simbol suku, bangsa, kelompok yang bersangkutan, belum banyak mendapat perhatian.
III.3.1.8. Dekorasi
Dekorasi ditujukan untuk menghiasi unsur-unsur perabot utama dalam gereja, khususnya untuk perayaan Ekaristi adalah altar, ambo/mimbar, kursi imam. Unsur-unsur lain yang berkaitan, misalnya: tabernakel, kredes, kursi pelayan altar, tempat lilin, salib, dan sebagainya. Unsur-unsur itu ditata sesuai dengan norma liturgi. Rangkaian bunga dibuat dan ditempatkan di sekitar unsur-unsur itu, tetapi bunga yang dituntut zaman ini seharusnya bunga hidup. Hiasan sering ditumpuk di sekitar altar, menunjukkan bahwa belum memperhatikan kaidah dasar mengenai keutuhan tata ruang ibadat dan partisipasi aktif seluruh umat yang berhimpun[10]. Prinsipnya, rangkaian bunga dan unsur dekoratif lainnya jangan sampai mengaburkan liturgi, apalagi unsur yang mengandung nilai simbolis penting, seperti: altar, ambo, kursi imam dan tabernakel.[11] Kain-kain dari toko, tidak boleh berlebihan karena terkesan kegiatan liturgi seperti tempat dan kegiatan pertunjukkan karya seni.
III.3.1.9. Langit-Langit Gereja
Desain gereja, melibatkan segala aspek interior ruang untuk ikut berpartisipasi dalam menciptakan suasana sakral. Salah satunya adalah langit-langit yang menjadi bagian yang cukup fundamental, karena langit-langit adalah simbol langit. Lokasinya di atas sehingga membuat orang harus menengadah kepala, seperti kalau melihat langit. Maka langit adalah simbol takhta Allah; ada awan, ada malaikat, ada cahaya matahari, bulan dan bintang. Karennya, langit-langit adalah aspek interior gereja yang memang strategis untuk mendukung suasana sakralitas ruang liturgi. Pada masa kini, Gereja mengalami banyak kesulitan dalam merancang langit-langit. Persoalanya karena mau mencari gampang dan murah. Langit-langit sering hanya menjadi tempat fungsional untuk menggantung lampu dan mengatur tata cahaya.
III.3.1.10. Tata Warna dan Cahaya
Warna dan cahaya yang digunakan dalam menata sebuah ruangan dapat memberi pengaruh fisik bagi penampilan sebuah ruangan. Warna yang terang dan tegas dapat memantulkan cahaya yang jelas dalam ruangan, sebaliknya suram/tidak bercahaya menampilkan cahaya lembut. Mutu cahaya yang terpantul dari suatu permukaan tergantung dari tekstur permukaannya. Warna dan cahaya dapat mempengaruhi secara fisik dan psikologis. Misalnya: panas atau sejuk secara fisik dan krasan/tenang dan kurang tenang secara psikologis. Oleh karena itu, warna harus sejalan dengan cahaya lampu dan matahari yang sedapat mungkin bisa memberi perhatian pada kegiatan liturgis. Penataan warna dan cahaya disesuaikan dengan lukisan, gambar yang ada sehingga orang dapat merasakan ketenangan jiwa, dan kehadiran kemuliaan Allah.[12]
III.3.1.11. Pintu dan Dinding Gereja
Pintu dan dinding gereja memiliki makna simbolis. Kedua bagian ini, adalah simbol perlindungan dari Kristus. Yesus sendiri mengatakan bahwa Diri-Nya sebagai Gembala yang Baik dan pintu masuk Kerajaan Surga bagi setiap orang yang mengikuti Dia (GIRM. No. 97.[13] Maka, Kristus berperan sebagai jalan yang mengarah kepada Bapa. Tampilan dan ketinggian pintu gereja mencerminkan martabat manusia yang berharga di mata Tuhan.
            Dalam pemahaman ini, dapat dikatakan bahwa dinding dan pintu yang kosong sebenarnya tidak wajar atau bahkan meniadakan simbol perlindungan Kristus bagi umat. Selain itu, tidak juga menampilkan martabat manusia yang berharga di mata Tuhan (lih. Lampiran gambar, hlm…). Jadi, setiap gereja harus dilengkapi dengan dinding dan pintu untuk melindungi kesucian rumah Allah.

III.3.2. Kreatifitas Seni Rupa bagian Luar Gereja
III.3.2.1. Halaman Gereja
Halaman gereja dibuat dengan luas agar kebutuhan prosesi umat, atau kegiatan dan perayaan liturgis lain yang diadakan sewaktu-waktu boleh berjalan dengan anggun. Selain itu, kegunaan halaman gereja dimaksudkan untuk melakukan devosional umat dihadapan Patung Maria. Setiap halaman gereja dianjurkan agar dibuatnya patung atau gambar dan poster pelindung gereja tersebut, guna mendukung kekudusan halaman gereja serta kemuliaan rumah Allah.
III.3.2.2. Taman
Keindahan taman dapat menyirami setiap orang yang menikmatinya sambil mengarahkan hatinya ke hadapan Sakramen Maha Kudus yang ada dalam gereja. Oleh karena itu, hendaknya taman ditata dengan baik dan dijaga agar tidak mengalami kegersangan dalam halaman gereja. Taman dapat memperindah gedung gereja dan patung Yesus, Maria dan santo/santa yang ada di muka gereja. Keindahan taman dapat membawa kesejukan dalam ruangan gereja, dalam hati dan menghantar hati umat mengalami keindahan cinta kasih Ilahi yang terpantul dari taman tersebut.
III.3.3. Suasana Kesakralan Liturgis
Semua kreativitas seniman di atas dimaksudkan untuk menciptakan suasana liturgi menjadi sakral. Benda dan atau hal sakral sebenarnya ada pada dirinya, peran seni seperti: ukiran, lukisan, dan hiasan. Benda tersebut dibuat untuk menciptakan suasana yang benar-benar dialami sebagai yang sakral. Oleh karena itu, seni berperan untuk mendukung dan menciptakan unsur kesakralan itu menjadi lebih disentuh ke dalam jiwa sekaligus menghadirkan unsur transenden.
Seni juga membuat suasana semakin teratur dan serasi. Oleh karena itu, dalam penataan ruang gereja atau ruang ibadat, ada dua hal penting yang perlu untuk dapat diperhatikan. Pertama, menyangkut pengaturan fisik dari tata bangunan dan tata ruang tersebut. Tata ruang berdaya guna bila di dalamnya orang merasakan kenyamanan, ketenangan, krasan, kesejukan, dan komunikatif. Kedua, lebih menunjuk pada suatu gambaran atau kesan yang dihadirkan melalui penataan yang sesuai dengan kaidah seni. Citra bangunan dan citra tata ruang lebih menyentuh tingkat spiritual, derajat dan martabat manusia yang ada di dalam ruang itu. Tata ruang itu menjadi pantulan jiwa dan cita-cita kita yang sedang beribadat. Tata ruang mampu membahasakan segala yang indah, segala yang agung, serta mengekspresikan semangat kaum beriman yang sedang merayakan korban penebusan. Dengan makna ini, maka para seniman didorong agar dapat menciptakan ruangan, peralatan, dan suasana liturgis menjadi sakral dan kudus.
Untuk itu, si seniman harus memperhatikan tempat-tempat yang perlu dirancang dengan satu kreatifitas yang tinggi, agar umat beriman yang hadir dapat terpukau dengan ukiran, lukisan, patung, dan sebagainya yang menghiasi semua perlengkapan dan tempat-tempat menjadi suci, sehingga kemuliaan di surga dan kemuliaan di dalam perayaan serta ruangan liturgis sungguh-sungguh dialami dan dirasakan. Jadi, peran seni rupa dalam liturgi sangat penting karena bermakna imanen dan transenden. Artinya unsur transendensi dapat dihadirkan melalui aktifitas seni rupa dan unsur imanensi dapat diungkapkan sebagai simbol kehadiran dari yang transenden. Jalur perkembangan seni Kristen sekarang tidak terlepas dari apa yang diwariskan Gereja masa lampau, hanya saja kreatifitas seni Kristen sekarang dikembangkan dalam porsinya yang praktis sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahaun dan teknologi.
III.3.4. Kaidah-Kaidah Seni: Indah dan anggun, serasi dan padu, mutu dan selaras
Kaidah seni yang dimaksudkan adalah keindahan, keserasian dan mutu sebagai unsur hakiki yang dipadukan dalam suatu karya seni. Ketiga unsur ini berkaitan dengan daya tangkap jiwa/spiritual manusia atas objek yang diamati. Ketika kaidah seni ini dibuat dalam konteks liturgi suci maka objek yang dirasakan adalah simbol kehadiran Sang Ilahi.
III.3.4.1. Indah dan Anggun
Liturgi merupakan perayaan keselamatan yang dilakukan oleh Tuhan dengan indah dan anggun. Penebusan itu merupakan karya penciptaan baru, dari manusia lama yang penuh dengan dosa, citra Allah yang telah rusak, kini kembali diciptakan menjadi baru dalam Roh dan Kebenaran. Liturgi dapat menghadirkan proses penebusan itu, merasakan betapa indah dan anggun karya Tuhan bagi manusia. Kaidah seni rupa yang indah dan anggun merupakan satu simbol yang melukiskan karya ciptaan tersebut. Oleh karena itu, tata seni harus sepadan dengan karya penciptaan Tuhan yang indah itu. Secara nyata kaidah seni keindahan dapat nyata melalui hasil kreatifitas berbagai peralatan liturgi secara baik.
Kesulitan dapat terjadi dengan keberadaan seorang seniman. Penataan itu merupakan kerja seorang seniman yang mahir dalam menata ruang liturgi menjadi indah dan anggun. Dua kriteria artistik menjadi indah dapat diperhatikan dalam hal menata ruang liturgi: pertama, harus merupakan karya seorang seniman. Kalau terpaksa dipilih barang-barang buatan pabrik yang diproduksi secara massal, maka barang tersebut harus sesuai warna liturgi, anggun dan indah dari segi bahan baku, rancangan dan bentuk, warna dan motif. Kedua, harus serasi satu sama lain, dan harus serasi dengan tata bangunan dan tata ruang gereja.[14] Ruangan yang ditata dengan indah dan anggun akan menampakkan suasana yang lebih sakral yang dapat mengajak dan menuntun umat beriman masuk dalam suasana kontemplasi yang saleh dan dapat mengarahkan hati dan jiwa mereka kepada Tuhan.
III.3.4.2. Serasi dan Padu
Tata ruang yang serasi dan padu merupakan tuntutan dari tata ruang yang artistik. Tata ruang yang artistik sebenarnya tidak hanya menyangkut hal yang indah dan anggun semata, melainkan menuntut suatu keserasian dalam penataannya. Tata ruang tersebut akan membentuk suatu kesatuan yang dapat mengekspresikan suasana yang harmonis antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya. Hal ini mengekspresikan kesatuan umat Allah yang berkumpul di dalam ruang ibadat. Bentuk keserasian dan padu terungkap melalui kebersamaan melagukan kidung pujian ke hadirat Allah yang maha kudus. Dengan demikian, umat akan merasa dihantar dan dituntun dalam pujian meriah menuju ke gerbang keselamatan yang kekal.[15]
III.3.4.3. Mutu dan Selaras
Karya seni yang baik adalah karya seni yang memiliki mutu yang baik dan selaras/sesuai. Disadari bahwa keindahan sebuah karya seni belum tentu memiliki mutu yang baik serta keselarasan menurut kaidah seni yang indah. Oleh karena itu, para  seniman harus benar-benar mendalami dan menekuni bakat dan minat yang telah ditaburkan oleh Tuhan. Khususnya para seniman Gereja perlu ada pembinaan dan pendampingan agar penataan peralatan seni rupa dalam liturgi menampilkan yang bermutu dan berkesesuaian. Berkaitan dengan itu, Gereja melalui Dokumen Konsili Vatikan II menegaskan bahwa:
“Henedaknya para Uskup-entah mereka sendiri, atau melalui para imam yang cocok untuk tugas itu, mahir dan mempunyai minat besar terhadap kesenian, -memberi perhatian kepada para seniman, supaya mereka diresapi semangat kesenian ibadat dan liturgi suci.
Selain itu dianjurkan, supaya di daerah-daerah yang kurang memerlukannya didirikan sekolah-sekolah atau akademi-akademi kesenian ibadat untuk membina para seniman.
Semua seniman, terdorong oleh bakat mereka bermaksud mengabdikan diri kepada kemuliaan Allah dalam Gereja suci, hendaknya selalu ingat, bahwa mereka dipanggil untuk dengan cara tertentu meneladan Allah Pencipta, dan menghadapi karya-karya yang dikhususkan bagi ibadat Katolik, bagi pembinaan serta ketaqwaan umat beriman, dan bagi pendidikan keagamaan mereka.[16]

Dari pernyataan di atas, dua hal yang harus diperhatikan yaitu, pertama, dibutuhkan pembelajaran yang baik tentang seni Gereja di sekolah/lembaga-lembaga, agar karya seni selalu bermutu dan sesuai dengan seni tradisi Gereja yang dipertahankan sampai sekarang. Tradisi Gereja itu tidak lain dari pokok iman yang dihayati turun-temurun sebagai satu kekayaan rohani. Kedua, para seniman sendiri adalah orang-orang yang ada dalam jalur panggilan Tuhan, agar mereka bisa meneladani Sang Pencipta sendiri. Dengan demikian, mereka sungguh-sungguh menampilkan karya kudus yang bermutu dan sesuai dengan peninggalan-peninggalan gereja yang terhormat (SC No. 129).[17]
III.5. Makna seni suci liturgis bagi penulis: Sebuah Refleksi Teologis
III.5.1. Allah adalah Seorang Seniman
Dari keterangan di atas, penulis dapat merefleksikan lebih mundur ke proses penciptaan dalam Perjanjian Lama (Kej. 1:1-26). Dari ketiadaan, Allah membuat menjadi ada, nampak dan terbentuk segala yang ada di bumi dan di langit. Proses ini dengan istilah lain disebut sebagai karya seni rupa, seni yang dapat dilihat ketika dibentuk, bisa diraba, dan bisa disentuh oleh panca indra. Allah menjadikan (segala sesuatu), selain diciptakan dengan FirmanNya, Allah menciptakan juga dengan “menjadikan” ialah sebuah perbuatan. Berkaitan dengan suatu tindakan atau perbuatan itu, secara jelas dilihat dalam peristiwa Allah menjadikan binatang-binatang (ayat 16) dan manusia (ayat 26). Akhir dari semua proses penciptaan disimpulkan dengan bahasa yang sering ditujukan bagi setiap karya seni; (sungguh) baik adanya.
Dari semua karya penciptaan Allah itu, penulis melihat dan dapat menyimpulkan bahwa Allah itu sungguh seorang seniman sejati. Sebagai seorang pelukis Ia telah melukiskan alam semesta dan segala isinya dan juga sebagai seorang pematung Ia telah membentuk manusia menjadi hidup. Semua hasil karya tanganNya itu indah, permai, hidup dan agung; seakan-akan jiwaku ini tenteram ke dalam jiwa seni Allah (bdk. Mzm. 8:4-6). Maka, hakekat dari keindahan alam dan kesempurnaan manusia adalah berasal dari jiwa dan nafas Allah sendiri, karena dalam melukiskan alam raya, Allah telah menuangkan jiwa-Nya dan ketika membentuk manusia Ia sendiri mengembuskan nafas-Nya sehingga manusia menjadi sempurna dari segala keindahan yang ada.
Tidak hanya karena hasil karya tanganNya membuat Ia dikenal sebagai seorang seniman, tetapi lebih dari itu penampakan diriNya menjadi meterai keindahan yang tak terkatakan. Peristiwa transfigurasi (perubahan rupa) Yesus di atas gunung tabor memberi arti yang mendalam bagi segala keindahan yang ada. Wajah dan pakaian yang dikenakan Yesus berkilau-kilauan, membuat tiga saksi: Petrus Yohanes dan Yakobut tenggelam dalam keindahan dan semarak tersebut. Ungkapan verbal, Petrus “ Guru betapa bahagianya kami berada di tempat ini,” menunjukkan satu ungkapan perasaan mendalam atas sumber segala seni yang menyatakan diriNya (bdk. Luk. 9:28-36). Gunung (tempat tinggi kediaman Allah, Awan (lambang Roh Kudus), dan dua orang Elia dan Musa menjadi latar belakang pelukisan keindahan dan kemuliaan Yesus Anak Allah. Demikianlah semua pekerjaan Yesus harus dilihat dalam konteks karya sang seniman. Maka, penderitaan dan wafat Yesus di kayu salib merupakan suatu penciptaan baru atas karya seni Allah yang telah rusak (manusia berdosa). Untuk memperbaiki karya seni Allah, St. Thomas Aquinas mengatakan bahwa penderitaan Yesus sudah ada dalam kehendak Bapa. Putra bertindak sebagai Hamba Allah, awan adalah tanda kehadiran Roh Kudus; maka seluruh Tritunggal tampak: Bapa dalam surga, Putra sebagai manusia, dan Roh Kudus dalam awan yang bersinar.[18] Peran Tritunggal ini, mengingatkan proses penciptaan karya seni pertama Allah: terdapat peran Roh Kudus yang melayang-layang di permukaan samudra, Firman/Sabda Allah (yang dimengerti sebagai Yesus sang Logos), dalam kesatuan dengan Bapa. Hasil dari penciptaan karya seni itu dilihat baik adanya. Kini dalam penciptaan baru karya seni yang sudah rusak dalam Perjanjian Lama diperbaiki kembali oleh Yesus dalam kerja sama Bapa dan Roh Kudus. Maka, transfigurasi Yesus merupakan penampakan kemuliaan dan semarak Allah, Sang seniman yang mau mengerjakan karyaNya menjadi berguna dihadapan kemuliaanNya.
II.5.2. Manusia sebagai simbol dan Pantulan dari Keindahan Allah[19]
Manusia itu sungguh indah, bahkan menjadi pantulan dari Keindahan Allah. Maka tidaklah megherankan, jika manusia mudah tersentuh oleh berbagai bentuk keindahan. Setiap orang mempu menangkap keindahan dalam kapasitasnya masing-masing, baik yang dialami maupun yang diciptakan manusia dalam bentuk karya seni, karena dalam dirinya ada keindahan yang sempurna. Dalam diri setiap orang bersemayam sumber Keindahan, yakni Allah sendiri. Manusia adalah sosok yang menjadi simbol Allah. Kalau ingin mengenal Allah, sebagai Sumber Keindahan, kenalilah manusia secara mendalam. Sikap memusuhi sesama maupun diri sendiri merupakan bentuk ungkapan memusuhi Allah. Sikap mencintai sesama maupun diri sendiri merupakan bentuk ungkapan cinta kepada Allah. Sikap membeda-bedakan atau mengkotak-kotakkan manusia berdasarkan agama, ras, suku, status ekonomi, dan sejenisnya merupakan penghalang serius untuk mengenal Allah secara mendalam.
Oleh karena itu, disadari bahwa alam dan manusia merupakan tanda kehadiran Allah sendiri di tengah-tengah dunia ini. Kita (manusia) dapat menjumpai Allah, sesungguhnya melalui alam semesta dan sesama manusia. Karena dalam hidup manusia ada nafas dan jiwa Allah dan dalam keindahan alam semesta ada jiwa Allah. Manusia seniman adalah seorang yang hanya dapat meniru/representator Karya Sang seniman sendiri yaitu Allah. Kreativitas seorang seniman untuk menciptakan hal-hal yang kudus dan indah memiliki kaitan dengan kreativitas Allah dalam menciptakan alam semesta dan manusia. Segala kreativitas seorang seniman akan selalu mengarah pada kebaikan bersama dan kemuliaan bagi Allah. Karena hidup manusia dan alam semesta itu telah dikuduskan oleh Allah dengan memberkatinya sehingga menjadi baik adanya. Manusia sebagai pantulan Allah bertanggung jawab dan berkewajiban untuk memelihara dan menggunakan alam semesta ini dengan bijaksana.
III.5.3. Liturgi sebagai tanda yang menunjukkan suatu Jalan perjumpaan manusia dengan Sang Seniman
            Liturgi merupakan jalan menuju pertemuan antara Allah dan manusia, dan sekaligus menjadi sarana yang memungkinkan manusia menyampaikan hormat dan rasa syukur kepada Allah, Sang seniman sejati jagat raya serta menemukan keselamatan-Nya. Melalui perayaan liturgi akan ada jalan bagi kita bahwa Allah yang tidak nampak bagi pancaindera kita, diekpresikan dalam berbagai kreasi seni suci. Liturgi sebagai perayaan simbol, manusia menggunakan berbagai lambang yang dapat dilihat dengan mata (seni rupa suci), didengar dengan telinga, dipegang dengan tangan dan dialami dengan seluruh kepribadiannya.
            Melalui sarana lukisan, kita merasakan kehadiran dan kemuliaan Sang Seniman, sebagai sumber hidup, yang menawarkan kehidupan yang baru. Melalui kurban Ekaristi dalam rupa roti dan anggur kita bersatu dengan Yesus Kristus sebagai makanan dan minuman-Nya, yang menjamin kehidupan ilahi. Dalam salib, kita bertemu dengan Kristus sebagai penyelamat, yang menderita, wafat dan bangkit. Altar melambangkan Kristus sebagai jantung dan dasar hidup kita. Dalam asap kemenyaan kita melihat butir-butir doa kita naik menyongsong Sang Seniman yaitu Allah Tritunggal.[20]
III.6. Kesimpulan
Dalam bab tiga ini ada dua pembahasan penting yaitu relevansi dari peran seni rupa dalam liturgi zaman sekarang dan refleksi penulis. Pertama, diketahui bahwa keberadaan seni rupa zaman sekarang merupakan warisan tradisi Gereja yang dipertahankan dalam liturgi suci. Tidak ada seni Kristen yang baru diciptakan, karena keberadaan seni rupa dalam liturgi sekarang merupakan warisan tradisi Gereja yang telah mengalami proses inkulturasi sesuasi dengan budaya setempat. Dengan proses inkulturasi memungkinkan agama Kristen dapat berakar dan bertahan sampai sekarang. Ada dua perubahan yang perlu diketahui dalam perkembangan seni Kristen. Pertama, Seni Kristen ala Budaya barat yang masuk dalam budaya lain mendapatkan bentuk yang baru sesuai budaya setempat (inkulturasi). Kebudayaan-kebudayaan lain mulai mengadopsi seni Kristen ala Barat dan mengembangkannya dalam konteks dan cita rasa budaya mereka, tanpa merubah makna iman yang diyakini Gereja dan otoritas Gereja. Kedua, perubahan terjadi dalam tradisi budaya masing-masing; sambil menjaga seni yang tidak bertentangan dengan iman, mulai mendapatkan bentuk yang sederhana dan praktis dengan bantuan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Khususnya dalam menghiasi dan memperindah peralatan liturgi suci secara baik.
            Tidak dipungkiri bahwa ada persoalan yang muncul dalam kaitannya dengan kegiatan devosional umat. Hal ini menjadi perhatian dan pemahaman yang baik dan perlu untuk diberikan kepada umat agar tidak lagi terjadi praktek tahyul dan magi.  Persoalan ini semestinya disikapi oleh pemerintah dan Gereja yang berwenang.
Kedua, dari semua penjelasan tentang peran seni rupa dalam liturgi disimpulkan dalam refleksi pribadi penulis secara teologis. Penulis yakin dan percaya bahwa semua aktivitas kesenian secara umum dan seni rupa dalam liturgi merupakan suatu peniruan seorang seniman mengikuti jejak Sang Pencipa. Proses penciptaan itu sendiri dinilai sebagai karya seorang seniman, maka Allah merupakan Seniman sejati. Dalam pemahaman yang sama manusia diciptakan sebagai makhluk yang mulia dan indah. Oleh karena itu, manusia merupakan pantulan Gambar Allah yang sejati, persoalan benci dan pertentangan merupakan bentuk penolakan terhadap Sang Pencipta sendiri. Melalui karya ciptaan-Nya Allah dapat dijumpai dan hadir untuk berbicara dengan manusia melalui manusia dan alam ciptaan-Nya.
            Manusia dapat menjumpai Allah melalui satu jalan. Jalan itu tidak lain dari kegiatan liturgi umat beriman. Melalui liturgi kita manusia menjalani hidup ini menjadi bermakna karena dapat mengenal dan berjumpa dengan Sang Seniman yang memberi hidup dan kegembiraan. Hidup menjadi bermakna karena ada dan berjalan bersama Tuhan, sambil memuji dan meluhurkan Tuhan. Umat beriman percaya bahwa keberadaan manusia di dunia ini adalah proses ziarah yang panjang, dan proses ziarah ini merupakan suatu perjalanan yang ditempuh menuju Allah. Peran seni rupa hanya sebagai simbol yang menghadirkan yang transenden menjadi dikenal dan dilihat oleh panca indra manusia. Maka liturgi merupakan jalan kehidupan umat yang diselamatkan menuju kehadirat Sang Seniman, melalui tanda dan simbol karya seni rupa.

LAMPIRAN
Bagian interior gereja menampilkan kekayaan seni suci liturgi yang diabadikan melalui pelbagai simbol suci. Dalam gereja St. Mary’s, terlihat di bawah altar yang tinggi, tulang seorang martir wanita tahun 1844.

Model interior gereja abad pertengahan

      

Salah satu Gereja St Mary's tertua di Amerika Serikat dan kedua interior model seni Ghotik di Gereja Timur (Ortodoks).

2. Model Interior gereja di keuskupan Manado


       

         


  • Gereja Sta. Agata di desa Poniki

      

BB Kitab Berkah
CCC Katekismus Gereja Katolik
CIC Codex Iuris Canonici: Kode Hukum Kanonik
CT Catechesi Tradendae: Pada katekese di Our Time
DD Dies Domini: Mengamati dan Merayakan Hari Tuhan
DOL Dokumen tentang Liturgi, 1963-1979: Teks Konsiliar, kepausan, dan Curial
EACW Lingkungan dan Seni di Ibadah Katolik (
Konferensi Nasional Uskup Katolik , 1977).
EM Eucharisticum Mysterium: Pada Ibadah Ekaristi
Umum GILM Pengantar Lectionary untuk Misa
GIRM Petunjuk Umum Misa Romawi
HCWEOM Komuni Kudus dan Ibadah Ekaristi di Luar Misa
IRL Inkulturasi dan Liturgi Romawi
Surat LA Artis
LG Lumen Gentium: Konstitusi Dogmatis tentang Gereja
MCW Musik di Ibadah Katolik
MF Mysterium Fidei: Pada Ajaran dan Ibadah Ekaristi
OA Opera Artis: Pada Perawatan Warisan Sejarah Gereja dan Artistik
OCF Orde Pemakaman Kristen
OP Ordo Paenitentiae: Ritus Tobat
PCEF [Surat Edaran Tentang] Penyajian dan Perayaan Hari-hari Raya Paskah
Ordinis Presbyterorum PO: Dekrit tentang Pelayanan dan Kehidupan Para Imam
PW Tempat Ibadah: Direktori Pastoral pada Bangunan dan Pengubahan urutan Gereja
RCIA Ritus Inisiasi Kristen Orang Dewasa
RDCA Ritus Dedikasi Gereja dan Altar sebuah
SC Sacrosanctum Concilium: Konstitusi tentang Liturgi Suci

Konferensi Waligereja Katolik Pada tahun 2000, dan Konferensi Uskup Katolik Amerika Serikat 2001



[1]Impresionisme/Impression, karakteristik utama lukisan impresionisme adalah kuatnya goresan kuas, warna-warna cerah (bahkan banyak sekali pelukis impresionis yang mengharamkan warna hitam karena dianggap bukan bagian dari cahaya), komposisi terbuka, penekanan pada kualitas pencahayaan, subjek-subjek lukisan yang tidak terlalu menonjol, dan sudut pandang yang tidak biasa.
Ekspresionisme adalah kecenderungan seorang seniman untuk mendistorsi kenyataan dengan efek-efek emosional. Ekspresionisme bisa ditemukan di dalam karya lukisan, sastra, film, arsitektur, dan musik. Istilah emosi ini biasanya lebih menuju kepada jenis emosi kemarahan dan depresi daripada emosi bahagia.
[2]Bdk. New Catholic Enciclopedia, Church Architectur (America: The Catholik Univercity, 1986), page. 1775.
[3]Realisme/Realisme di dalam seni rupa berarti usaha menampilkan subjek dalam suatu karya sebagaimana tampil dalam kehidupan sehari-hari tanpa tambahan embel-embel atau interpretasi tertentu. Maknanya bisa pula mengacu kepada usaha dalam seni rupa untuk memperlihatkan kebenaran, bahkan tanpa menyembunyikan hal yang buruk sekalipun. Perupa realis selalu berusaha menampilkan kehidupan sehari-hari dari karakter, suasana, dilema, dan objek, untuk mencapai tujuan Verisimilitude (sangat hidup). Perupa realis cenderung mengabaikan drama-drama teatrikal, subjek-subjek yang tampil dalam ruang yang terlalu luas, dan bentuk-bentuk klasik lainnya yang telah lebih dahulu populer saat itu.
Naturalisme/Naturalisme di dalam seni rupa adalah usaha menampilkan objek realistis dengan penekanan pada setting alam. Hal ini merupakan pendalaman lebih lanjut dari gerakan realisme pada abad 19 sebagai reaksi atas kemapanan romantisme (keindahan/kecantikan).
[4]Jek rens?,,,,,,,,,,,,,,
[5]Skripsi Jack Renyaan?………
[6]Ratzinger Kardinal Joseph, waktu menjabat sebagai prefek Konggregasi untuk Ajaran Iman. Online Edition - Vol. VIII, No 1: Maret 2002, tentang Seni, Gambar dan Seniman.
[7]Ibid.,
[8]RDCA, Rite of Dedication of a Church and an Altar n Sebuah Ritus Pelayanan terhadap Gereja dan Altar.
[9]Komisi Liturgi KWI, Tata Ruang Ibadat, Bina Liturgia 7, PD, (Jakarta:Obor, 1990), hlm. 52. Bdk, Peater, Tom, Church Art and Architecture: Sclptor, Medium and Vision, dalam The Clergy Review, no, 4, Vol. LXX, April 1998.
[10] Ernes Maryanto, Praktek Liturgi Pasca-Vatikan II, dalam Gereja Indonesia Pasca-Vatikan II, Refleksi dan tantangan, (Yogyakarta: Kanisius, 1997), hlm. 297.
[11] Romo A.Susilo Wijoyo, Pr, dalam, http: //2.bp.blogspot.com/_Naf0fbnhynM/Spj0xpepVJI/AnB-fN339GQ/s1600-h/Bunga_liturgis2.png
[12]Bdk, Jacobus Renjaan, Skripsi: Tata Ruang Ibadat Yang Ekspresif: disoroti dari Bidang Seni Rupa,Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng, 1995, hlm. 85-86.
[13]GIRM, General Instructioan Of The Roman Missal, Petunjuk Umum Misa Romawi (USCCB) United States Conference Of Catholic Bishops
[14]Bdk. SC. No. 122.
[15]Bdk. Jacobus Renjaan, Skripsi: Tata Ruang Ibadat Yang Ekspresif: disoroti dari Bidang Seni Rupa,Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng, 1995, hlm. 66.
[16]Komisi Liturgi KWI. Dalam SC. No. 127, hlm. 48-49.
[17]Ibid.,
[18]Katekismus Gereja Katolik, (Ende-Flores: Arnoldus, 1995), hlm. 173.
[19]St. Gregorius dari Nyssa (335), telah merefleksikan terlebih dahulu; “sesungguhnya, manusia merupakan pantulan dari keindahan asli, yaitu Allah. Segala sesuatu yang diciptakan Allah itu, sungguh amat baik. Kisah penciptaan memberi kesaksian tentang itu. Di antara barang-barang baik itu terdapat manusia, yang dihias dengan keindahan yang jauh melebihi keindahan semua barang indah yang lain. Barang lain manakah yang dalam menyataannya dapat seindah ciptaan yang serupa dengan keindahan murni yang tak dapat sirna? Sebagai pantulan dan gambar kehidupan kekal, manusia sungguh baik, malah amat baik, karena adanya tanda yang memancarkan kehidupan pada wajah-Nya. Paus Benedictus XVI, Bapa-bapa Gereja, Hidup, Ajaran, dan Relevansi Bagi Manusia di Zaman Kini (Malang: Dioma, 2009), hlm. 126.
[20]Bdk. Nikolaus Hayon, Ekaristi Perayaan Keselamatan dalam Bentuk Tanda, (Ende-Flores: Nusa Indah, 1986), hlm. 55-56.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar